
“Menyusuri Keberagaman, HMJ Studi Agama-Agama Kunjungi Kelenteng Soetji Nurani”
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Studi Agama-Agama melaksanakan kunjungan edukatif ke Kelenteng Soetji Nurani dengan melibatkan mahasiswa Jurusan Studi Agama-Agama serta peserta dari luar lingkungan UIN Antasari Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperluas wawasan dan pemahaman mengenai keberagaman tradisi serta praktik keagamaan, khususnya dalam kehidupan keagamaan masyarakat Tionghoa.
Kunjungan ini memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk mengenal lebih dekat ruang peribadatan, simbol-simbol keagamaan, serta berbagai tradisi yang dijalankan di lingkungan kelenteng. Melalui pengamatan secara langsung, peserta dapat memahami bahwa setiap benda yang terdapat dalam ruang peribadatan tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga mengandung nilai simbolis dan makna spiritual.

Salah satu simbol yang menarik perhatian adalah pedupaan atau hio lo yang digunakan sebagai tempat membakar dupa atau hio. Dalam praktik peribadatan, dupa menjadi sarana penghormatan dan ungkapan ketulusan dalam berdoa. Asap yang mengepul juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan doa dan penghormatan kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa) serta leluhur sesuai tata peribadatan masing-masing.

Selain itu, terdapat lilin merah yang melambangkan penerangan, harapan, dan kehidupan. Cahaya lilin menjadi simbol pengingat akan pentingnya membawa kebaikan dalam kehidupan.

Sementara itu, lampion merah yang menghiasi lingkungan kelenteng memiliki keterkaitan dengan kebahagiaan, keberuntungan, kemakmuran, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik dalam tradisi budaya Tionghoa.
Berbagai simbol tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai spiritual dan budaya diekspresikan melalui benda-benda yang menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Hal ini memberikan pemahaman bahwa simbol keagamaan tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah, budaya, serta keyakinan yang melatarbelakanginya.
Melalui kunjungan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga pengalaman empiris dalam memahami bagaimana agama dipraktikkan dan dimaknai oleh para penganutnya. Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang juga menjadi ruang perjumpaan untuk bertukar wawasan, membangun dialog, serta menumbuhkan sikap keterbukaan dan saling menghargai.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam memperkuat semangat dialog lintas agama dan memperluas kesadaran bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan ruang untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai perbedaan.



